Dalam sebuah hadits diterangkan: “Mencari ilmu itu fardhu (wajib) atas setiap orang muslim”. (HR. Ahmad dan Ibnu Jaiz, hadits hasan). Maka hendaklah kita berlomba-lomba mencari ilmu. Ilmu yang di maksud di sini tidak lain adalah ilmu agama. Tentunya agama yang diridhoi oleh Allah swt, yaitu Agama Islam. Agama Islam itu sendiri bersumber dari Al-quran dan hadits. Maka jalankanlah agamamu (umat Islam) sesuai dengan petunjuk dari Al-quran dan hadits. Jika ada suruhan-suruhan yang tidak terdapat dalam Al-quran dan hadits, kita wajib meninggalkannya.
Dengan mempelajari ilmu agama, kita akan mendapat kejelasan dan pemahaman dalam beribadah kepada Allah swt. Sehingga kita dapat terhindar dari kesesatan, bid’ah (mengada-ada dalam beragama), khurafat, takhayul, dan syirik. Nabi Muhammad saw bersabda: “Barang siapa yang Allah kehendaki padanya kebaikan, maka Allah pahamkan dia dalam ilmu agama”. (HR. Al-Bukhari).
Menuntut ilmu agama itu adalah meniti jalan menuju ke surge. Sebab menghindari dari jalan yang menuju kesesatan, baik itu bid’ah, khurafat, takhayul, maupun sampai kepada kemusyrikan/menyekutukan Allah. Hal itu ditegaskan oleh Nabi Muhammad saw. dalam hadits yang artinya: “Barang siapa yang menempuh suatu jalan untuk menuntut ilmu maka Allah akan memudahkan baginya jalan ke surga”. (HR. muslim, At-Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ahmad). (Aliran dan Paham Sesat di Insonesia, Hartono Ahmad Jaiz, 2007, masalah kewajiban menuntut ilmu,hlm.7)
Sebagai umat Islam kita telah mengucapkan 2 kalimat syahadat. Dalam 2 kalimat itu juga diterangkan, bahwa hanya Allah yang tauhid tiada Tuhan selain Allah yang patut disembah dan bersaksi Nabi Muhammad adalah utusan Allah, sedangkan kita meyakini dan harus memahami arti kalimat itu. Kebanyak orang hanya meyakini saja namun pehamannya masih kurang. Pemahaman yang seperti apa? Kita adalah umat/pengikut Nabi Muhammad, maka apa saja yang jadi petunjukknya ikutilah. Jangan ada keraguan dalam hati. Bukankah kita telah mengucapkan 2 kalimat syahadat yang salah satu maknanya meyakini Nabi Muhammad adalah utusan Allah? Jika kita melakukan tindakan yang tidak sesuai dengan petunjuk Nabi Muhammad saw. maka itu artinya kita telah mengingkari kalimat syahadat.
Dalam Al-quran telah dijelaskan: “Barang siapa yang menaati Rasul itu, sesungguhnya ia telah menaati Allah. Dan Barang siapa yang berpaling (dari ketaatan itu), maka kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka” (Q.S An-Nisa’,80). Telah jelas di dalam surat itu, bagi siapa yang mentaati Rasul (Nabi Muhammad saw) maka ia juga mentaati Allah. Lalu, janganlah kita memelihara orang-orang yang berpaling dari ketaatan yang di perintahkan Nabi Muhammad saw.