Minggu, 25 September 2011

Kewajibanku kepada Kedua Orang Tua



ü Ketika Rasulullah saw ditanya oleh seorang laki-laki, “Siapakah yang paling berhak terhadap baktiku?” Beliau menjawab, “Ibumu”. Laki-laki itu bertanya lagi, “Kemudian siapa?” Beliau menjawab “Ibumu”. Laki-laki itu bertanya lagi, “kemudian siapa?” Beliau menjawab “Ibumu”. Ia bertanya lagi “Kemudian siapa lagi?” Beliau menjawab “Bapakmu” [al-Bukhari:5971, Muslim:2548].

ü Abdullah bin Mas’ud r.a berkata.”Aku bertanya kepada Nabi saw, amal apa yang paling dicintai Allah Ta’ala?”. Beliau menjawab, “berbakti kepada kedua orangtua”. Aku bertanya lagi, kemudian apa lagi? Beliau menjawab “jihad di jalan Allah”. [HR.al Bukhari:5970].

ü Pernah suatu ketika seorang laki-laki menghampiri Nabi saw dan meminta izin untuk berjihad, Nabi saw bertanya, “Apakah kedua orangtuamu masih hidup?” laki-laki itu menjawab “Ya”. Nabi saw bersabda, “kalau begitu berjihadlah pada keduanya”. (Muttafaq ‘alaih; [al-Bukhari:3004, Muslim:2549).

ü Seorang laki-laki Anshar datang lalu bertanya, “Wahai Rasulullah, masih adakah bakti wajibku kepada kedua orangtuaku yang harus aku lakukan setelah mereka meninggal?” Nabi saw menjawab, ”Ada, yaitu empat hal, mendoakan keduanya, memohonkan ampunan bagi keduanya, melaksanakan janji keduanya, menghormati teman-teman keduanya dan menyambung tali persaudaraan (silaturrahmi) yang tidak ada hubungan rahim denganmu kecuali melalui keduanya. Itulah sisa bakti yang harus kau lakukan terhadap keduanya setelah mereka meninggal”. (HR. Abu Daud [5142]).

ü Rasulullah bersabda “Sesungguhnya ketaatan itu pada kebaikan” (HR. Muslim: [1840]).

Jumat, 16 September 2011

Jalan Keluar



Saat pindah ke Kalimantan aku berada di tingkatan sekolah menengah atas. Nama sekolahanku adalah SMA N 1 Sebuku yang mulai berdiri sejak 2006 silam. Aku tak sempat merasakan suasana kelas satu di SMA ini. Masa ketika kelas satu SMA aku habiskan di Banyuwangi. Jadi aku adalah siswa pindahaan sejak kelas dua SMA.

SMA N 1 Sebuku berada di tengah-tengah hutan. 10 langkah kebelakang saja aku sudah memasuki hutan. Di samping kanan dan kiri juga begitu. Hutan begitu lebat menutupi lingkungan sekolah. Pohon-pohon besar menjulang tinggi menutupi sinar matahari yang terang di pagi hari. Walaupun sekolah ini berada di tengah hutan, namun bangku sekolah terbuat dari plastik yang berwarna merah dan biru. Hanya meja saja yang terbuat dari kayu.

Karena letaknya yang berada di tengah hutan dan jauh dari pemukiman penduduk, maka akses transportasi ke sekolah cukup jauh dan sulit dijangkau. Untuk menanggulangi hal semacam ini, pemerintah setempat menyediakan dua truk (semacam truk satpol PP) untuk mengangkut siswa ke sekolah. Bukanlah bis tapi truk, tapi teman-teman menyebutnya bis sekolah.

Bagi teman-teman yang memilikki motor mereka tidak diperkenankan ikut dalam rombongan truk. Semenjak adanya truk ini, aku lebih sering ikut rombongan dari pada jalan kaki atau numpang orang ke sekolah. Jalan berdebu dan berbatu setiap hari aku lewati. Berangkat dengan seragam bersih pulangnya berseragam kotor. Meski begitu, aku jarang mencuci seragam karena takut tidak kering.

Pada awal berdirinya, sekolahan ini memiliki sekitar 70-an siswa. Terdapat tiga ruang kosong di sekolah. Dua untuk ruang kelas dan yang satu adalah kantor guru. Satu kelas berisi siswa IPA yang berjumlah 30 orang, aku termasuk di dalamnya. Sedangkan 40 yang tersisa mengambil jurusan IPS.

Kebanyakan orang mengimplementasikan kalau jurusan IPA berisi anak-anak yang pandai. Mahir dalam soal hitung-hitungan dan berpikir rasional. Tetapi berbeda yang ku rasakan saat itu, kelasku seperti bukan kelas, lebih cocok dibilang hotel mawar di pinggiran hutan. Siswa hanya datang ke sekolah lalu tiduran. Jika merasa lelah tidur dan belajar kemudian mereka pulang begitu saja.

Aku terengah menyaksikan adegan-adegan aneh seperti itu setiap hari. Terkadang tertawa sedih meratapi nasib pendidikanku. Seingatku, hanya ada delapan sampai 10 orang guru saja. Lebih parah lagi, tak ada guru yang sesuai mengajar mata pelajaran dengan disiplin ilmu yang dimiliki. Sarjana pertanian atau SP mengajar Biologi, sarjana PKN mengajar olahraga, sarjana Hukum mengajar bahasa Inggris, dan yang terakhir D3 teknik mengajar Kimia, Fisiki, dan Matematika.

Masya Allah! Yang aku khawatirkan adalah nasib saat menjelang Unas nanti. Apakah aku lulus atau tidak? Saat-saat SMA yang seharusnya penuh kenangan dan keindahan aku lalui dengan kekhawatiran. Namun tak ada guna bagiku untuk terus meratapi keterpurukan itu apalagi sampai menyesali. Aku belajar sebisaku dan apapun itu yang bersangkutan dengan ujian aku pelajari. Hal yang aku sadari pastilah ada jalan keluar dari semua ini. Tuhanku tak akan memberi kesulitan kepadaku sehingga kesulitan itu tak mampu aku selesaikan.

Singkat cerita, datanglah waktunya menghadapi Unas. Satu-satunya jalan lulus ujian adalah mengikuti ujian. Bergetar dan berdebar kencang jantung serta urat nadi seluruh tubuhku menghadapi hari itu. Aku paham betul siapa aku dan apa yang harus ku perbuat. Sepanjang ujian, senjata ampuh yang selalu ku ucapkan adalah doa, doa, dan berdoa. Semoga lulus!

Beberapa minggu kemudian, tiba saatnya untuk melihat hasil ujian nasioanl. Sebelumnya tersiar kabar bahwa ada sekitar 11 orang yang tidak lulu. Aku tidak tahu siapa mereka. Aku hanya akan merasa sedih jika memang berita itu betul. Saat mendapat amplop dari guru, aku buka pelan-pelan dengan tangan yang bergeter. Bukan hanya tanganku saja, pikiran dan perutku juga bergetar seperti siap-siap meletus jika tidak tahan lagi.

Aku sobek amplop itu, karena tanganku yang bergetar, tidak sengaja aku juga menyobek suratnya. Untung tidak secara keseluruhan surat sobek, hanya ujungnya saja. Apakah aku lulus? Tiap kali aku tanyakan pada diri sendiri. Aku buka surat dan kulihat beberapa kalimat tersusun rapi seperti surat resmi. Namaku tercantum di dalamnya di bawah namaku tertulis kalimat dengan huruf kapital semuanya. Lima huruf jumlahnya dan bacanya adalah LULUS!

Alhamdulillah, dengan meneteskan air mata aku tidak percaya dengan apa yang kulihat. Aku lulus dan akan melanjutkan ke perguruan tinggi. Aku bahagia dan bangga. Orang tuaku juga demikian. Nilai ujian nasionalku adalah 39, aku lupa koma berapa. Nilaiku tak cukup bagus jika dibandingkan dengan teman-teman yang berada di Jawa setelah aku tanyakan kepada mereka. Namun nilai itu adalah yang tertinggi di kelasku. Ah, lucu sekali! Sementara di kelas IPS nilai tertinggi adalah 41.

Begitulah kisah beruntungku di masa-masa SMA. Penuh dengan makna dan hikmah. Tuhan tidak membebani aku dengan masalah yang tidak bisa aku selesaikan. Begitu juga dengan kehidupan kalian. Terima kasih teman-teman atas perhatiannya semoga bermanfaat untuk aku dan kalian semua.

“Hidup seperti mengendarai sepeda, kita harus tetap bergerak agar tetap seimbang”

Jumat, 19 Agustus 2011

Hanya Di Sini Tanah Airku



Pulang ke kampung halaman membuat Sahroni ingat akan masa-masa kecilnya dulu. Maklum, sejak umur 10 tahun, dia telah pergi dari kampung halaman demi mencari penghidupan di luar sana. Saat ini, dilihatnya tanah-tanah yang dulu biasa dia pakai bermain telah berubah menjadi semen-semen yang menutupi akar pohon. Namun rumah-rumah nampak tidak berubah. Masih saja berdinding bambu dan beralaskan tanah. Hanya sedikit bertembok bata. Ditemui pula anak-anak kecil sedang berlarian di bawah kemerlap matahari pagi di kampungnya. Dahulu, tak pernah dia lihat anak-anak itu. “Anak siapakah mereka?” Sahroni bertanya pada dirinya sendiri.

Cukup lama ia jalan menyusuri kampung, hingga berhenti di depan rumahnya. “Ini adalah sebuah kejutan bagi keluarga di rumah. Kedatanganku ini tanpa kabar sebelumnya. Semoga mereka semua sedang berada di rumah saat ini,” harap Sahroni.

Diketoknya pintu dua jendela yang menutupi rumahnya itu beberapa kali. Dari dalam terdengar suara tanya. “Siapa?” katanya. Namun Sahroni tidak menjawab pertanyaan itu. Sunyi kemudian suasana. Suara angin terdengar menabrak daun-daun bambu di belakang rumah. Terik matahari semakin menusuk kulit, tanda hari telah siang. Tak lama berselang, terdengar suara hentakan kaki bersamaan dengan suara tanya, “Siapa?” katanya lagi. Sahroni tetap membisu meskipun dia ingin sekali menjawab suara itu.

Dibukalah pintu dua jendela tadi pada bagian atasnya. Nampak seorang ibu tua muncul dihadapan Sahroni. Rambutnya putih nampak terurai seperti habis tidur cukup lama. Matanya berseri-seri dan sedikit basah ketika menyaksikan seorang pemuda ada di depannya. “Assalamualaikum, bu. Ini anakmu, Sahroni,” jelas Sahroni. Ibu tua itu langsung memeluk anak semata wayangnya dengan mengucapkan beberapa patah kata. “Astaghfirullah, sudah lama kami menanti kedatanganmu, nak. Kami merindukan dan selalu memikirkanmu siang dan malam,” Ibu menangis di pelukan Sahroni.

Saat ini, Sahroni telah berumur 25 tahun. Itu artinya, telah 15 tahun dia meninggalkan kampung halaman dan juga kedua orang tuanya. Keputusan Sahroni untuk pergi meninggalkan kampung dikarenakan himpitan ekonomi yang membuat kehidupan mereka miskin.

Setelah kepergiannya itu, kebutuhan keluarga cukup terpenuhi oleh kiriman uang dari Sahroni. Bapaknya yang dulu buruh tani, kini tidak bisa lagi menjalankan pekerjaannya karena usia yang semakin tua. Keadaannya sering sakit-sakitan. Jika berobat kedokter, uang makan habis untuk berobat. Sehingga memaksa keluarga itu mencari hutang kepada tetangga.

Hutang, hutang, hutang. Hampir tiap kali Sahroni mengirim uang tetapi uang habis untuk membayar hutang. Apalagi harga kebutuhan ekonomi terus naik. Keluarga tua itu nampak tak tahan lagi untuk sekedar menahan kenyang di perut. Makan seperlu dan seadanya. Bila perlu dua hari sekali baru makan. Itu untuk menghemat uang dan makanan.

Sekarang Sahroni telah datang. Keluarga berharap Sahroni membawa banyak uang sehingga mereka tidak kelaparan lagi. Namun apa yang terjadi? Uang yang ada di saku Sharoni hanya cukup untuk makan sebulan saja. Sekalipun hanya sebulan, keluarga tetap bersyukur, setidaknya mereka tidak hutang lagi.

Sahroni masuk ke dalam rumah. Nampak ayahnya berdiri di antara meja dan kursi yang dulu sering digunakan Sahroni untuk tidur. Sahroni langsung memeluk sang ayah dan mengucapkan maaf lewat suara lembut yang dibisikannya ke telinga kanan sang ayah. “Maaf, bapak. Aku terlalu lama pergi sehingga tidak begitu tahu keadaan keluarga ini,” sesal Sahroni.

Kau memang pemberani, nak. Apa yang telah kau lakukan adalah benar. Mungkin kami tidak bisa bertahan lama jika tidak ada uang kiriman dari kamu. Jadi janganlah kamu menyesali yang telah terjadi. Ini semua adalah hikmah dari Allah.

Duduk-duduklah keluarga kecil itu dirumah yang berdinding ayaman bambu. Matahari telah nampak tergelincir ke barat. Suara dedaunan bambu semakin terdengar bersamaan ricikan air sungai di bawahnya. Sunyi kembali keadaan untuk sementara. Telah tersedia segelas air putih di hadapan Sahroni. Namun tak langsung dia meminum air itu.

Kemudian sang ayah bercerita tentang keadaan kampungnya. “Sudah satu dasawarsa ini kehidupan di kampung begitu sulit, nak. Ternyata tidak hanya pejabat negara saja yang berani melakukan korup. Pejabat desa ini, yang berasal dari kampung ini, juga berani melakukan hal biadab itu. itulah sebabnya, kemakmuran di sini jauh dari harapan. Sudah empat kali pergantian kepala desa selama setahun ini. Pergantian dilakukan karena kepala desa terbukti melakukan penggelapan uang”. Sahroni hanya diam dan tetap mendengarkan ayahnya bertutur.

Yang terakhir adalah pak Mahmud. Dia ditahan polisi karena kedapatan menggelapkan dana perbaikan jalan desa ini. Itulah sebabnya, jalanan tetap jelek dan semakin rusak. Sekalipu perbaikan jalan rampung, namun jalanan-jalanan itu akan rusak beberapa bulan kemudian. Bapak tidak tahu kenapa begitu. Entah bahannya yang tidak bagus atau kerjanya asal-asalan. Namun pemerintah telah mengucurkan banyak rupiah untuk perbaikan itu. Sampai bermiliaran rupiah.

Hari semakin gelap, ibu menyalakan lampu minyak yang cahayanya menembus dinding-dinding rumah. Air minum tadi belum juga diminum oleh Sahroni. “Diminum airnya, nak! Tidakkah kamu merasa dahaga?” Tanya si ibu. “Tidak, bu. Aku terbiasa haus seperti ini. Bukankah kita keluarga miskin, bu? keluarga miskin yang belum atau mungkin tak akan pernah hilang dahaga kemiskinannya?” tegas Sahroni.

Sang ayah melanjutkan ceritanya. Saat ini banyak anak-anak tak sekolah karena biaya pendidikan yang tinggi. Meskipun sanggup membayar uang sekolah, tapi kekhawatiran akan adanya korupsi membuat beberapa orang tua lebih memilih tidak menyekolahkan anaknya. Begitulah korupsi telah membuat kami sengsara dan bodoh, nak.

Kemudian Sahroni berkata. “Bapak, kepulanganku ini tidak hanya di dasari atas kerinduanku kepada keluarga semata. Terlepas dari itu, kepulanganku dikarenakan persaingan tidak sehat yang terjadi di tempat perantauanku, Jakarta. Di sana tidak hanya korupsi, bahkan perampokan terang-teranganpun sering terjadi. Tanah air ini seakan tidak aman lagi, pak. Di mana-mana korupsi, di mana-mana perampokan. Di mana-mana rakyat kecil selalu dibohongi. Undang-undang yang dibuat itu adalah pelampaiasana keinginan orang-orang atas, bukan keinginan rakyat miskin seperti kita. Walhasil, orang miskin semakin sengsara.

Lalu, di mana lagi kita akan hidup enak, pak? Hanya ini tanah airku. Di sinilah, Indonesia. Pantaskah aku kelaparan di sini, tempat kelahiranku ini? Tanya Sahroni. Ayah menjawab, “Meskipun kita ini keluarga miskin, tapi jangan sampai hina seperti mereka. Mereka itu (koruptor) orang-orang kaya yang hina, sedangkan kita orang-orang miskin bermartabat. Tidak kah kau ingin tinggal di gubuk bambu yang penuh kedamaian dari pada di istana yang penuh dengan kehinaan dan kebohongan?”. “Aku mengerti, pak,” jawab Sahroni sedih.

Jumat, 01 April 2011

Ke Museum Bung Karno


13 Maret lalu aku dan mas Ardi pergi ke Kota Blitar. Mas Ardi adalah orang Blitar dan juga teman kostku. Perjalanan ke Kota Blitar saat itu adalah yang pertama bagiku. Aku merasa senang dan akan mangenang perjalanan berkesan itu.

Perjalanan melewati waduk Karang Kates kemudian masuk Kabupaten Blitar. Setelah beberapa kilo meter memasuki Kabupaten Blitar, aku dan mas Ardi mengunjungi pembangkit listrik tenaga air yang bernama Lodoyo. Pada kesempatan momen itu, kami mengambil gambar sepuasnya sampai ada seorang satpam yang memanggilku. Aku lihat orang bersergam putih itu. wajahnya terlihat garang. Kumisnya jarang-jarang di atas bibirnya. Mas Ardi yang berada di kejauhan tidak menyaksikan apa yang sedang terjadi kepadaku. Kemudian aku berteriak keras ke arah mas Ardi. Beberapa kali teriakan meledak dari mulutku, baru mas Ardi mendengarnya.

Sekarang kami berjalan menuju satpam yang telah menunggu di ujung jembatan sana. Setelah dirasanya kami dekat dengan dia, sambil duduk di atas motornya yang kuno, langsung saja dia memberi peringatan kepada kami bahwa dilarang berfoto-foto tanpa izin. Aku menjawab, “kami tidak tahu peraturannya, maaf,” aku membela diri. Tapi satpam itu seakan tidak mendengarkan dan hanya menapilkan sosok emosinya saja. Keadaa sedikit tegang ketika satpam itu mengatakan bahawa telah terpampang peringatan di ujung jemabatan sebelum masuk ke Lodoyo. Namun seingatku, peringatan itu tidak ada. “Kami tidak melihatnya, pak,” tegasku. “Ah, ada kok papan peringatannya,” belanya.

Berupaya tidak ingin memperpanjang masalah, aku mengiakan saja apa yang dikatakannya. Lalu aku dan mas Ardi bergegas pergi melewati jembatan tempat kita masuk tadi. Di ujung jembatan itu, memang benar, tidak ada peringatan dilarang memotret tanpa izin. Tapi ya sudahlah, kami melanjutkan perjalan menuju Kota Blitar, kotanya Pak Karno.
Tidak beberapa lama kemudian, kami sampai di Kota Blitar. Blitar terbagi dua wilayah administratif. Kota dan Kabupaten Blitar. Sama halnya seperti di Malang. Setelah masuk Kota Blitar, perjalan kami langsung menuju ke kompleks pemakan Bung Karno.

Di lingkungan kompleks itu, terdapat perpustakaan, museum, dan tentunya yang menjadi perhatian pengunjung, makam Bung Karno. Pada waktu itu, aku tidak sempat masuk ke dalam perpustakaan, namun aku sempat masuk ke dalam museum dan kompleks pemakaman.
Mendeskripsikan pemakan tidak begitu menarik menurutku. Tapi yang membuat aku tertarik adalah mendeskripsikan museum Bung Karno. Baiklah, aku akan menceritakan ruangan itu kepada para pembaca yang budiman.

Setiap pengunjung yang hendak masuk harus mengisi buku tamu. Para pengunjung dilarang mendokumentasikan atau memotret selama berada di dalam ruangan. Memasuki museum, aku langsung melihat berbagai macam foto dan lukisan yang dipajang di dinding. Terdapat sebuah lukisan Bung Karno yang jika dilihat dari samping pada lukisan itu, dada Bung Karno terlihat berdetak seperti detakan jantung. Aneh, ya aneh. Tapi aku menyaksikan sendiri dan aku terheran-heran. Aku simpan keherananku itu, lalu aku lanjutkan penjelejahan di dalam museum yang sangat sarat dengan sejarah Bung Karno itu.

Di sebelah kanan dari pintu masuk, setelah melewati lukisan Bung Karno di awal tadi, ada bendera merah-putih yang dikibarkan pada tanggal 16 Agustus 1945 (sehari sebelum proklamasi kemerdekaan Indonesia). Bendera itu dibuat oleh Ibu Fatmawati, istri Bung Karno. Bergeser sedikit ke kiri, ada foto Bung Karno yang sedang sungkem kepada Ibunya, Ida Aju Njoman Rai. Tepat di samping foto itu, digantung sebuah jas di dalam lemari kaca. Jas itu adalah kepunyaan Soekarno yang sering dipakai jika berdinas. Namun karena usianya yang sudah senja, bagian bawah kerah jas itu tampak robek.

Ada uang seri Bung Karno bernominal Rp 100 (tahun 1954) dan Rp (1000 tahun 1964). Pada papan informasi yang berada di bawahnya, uang itu memilikki keunikan, yaitu bisa melipat bila diletakkan di atas telapak tangan orang-orang tertentu.
Di pjok ruangan, ada sebuah gong besar yang berdiameter 91 cm. namun tidak diketahui secara jelas tahun pembuatannya. Gong itu sering digunakan untuk menyambut kedatangan Bung Karno jika berkunjung ke Kota Blitar. Gong itu juga pernah digunakan dalam pertunjukkan wayang kulit. Ternyata Bung Karno hobi mendalang pula.

Di tengah-tengah ruangan depan terdapat kopor bersejarah yang sering digunakan oleh Bung Karno keluar masuk penjara. Kopor itu dalam keadaan terbuka, di dalamnya ada sebilah pedang kecil berwarna keemasan dengan berat 309 gram. Menurut informasi di situ,pedang itu sering digunakan Bung Karno sebagai pegangan disaat kunungan kedinasan.

Ada foto-foto koleksi tentang Bung Karno dalam periodisasi yang menggambarkan perjalanan sejak menjadi murid hingga lulus dari ITB. Selain itu, juga ada foto bersama teman-temannya di T.H.S. Bandung. Sebuah foto Bung Karno di atas kereta Belanda sangat menarik perhatianku. Foto itu menggambarkan bahwa Bung Karno adalah seorang murid yang terpandang. Adanya foto itu, menapik isi buka David Copperfield yang menceritakan Bung Karno sebagai tokoh gembel.

Di ruangan tengah museum ada lukisan kedua orang tua Bung Karno. Ida Aju Njoman Rai, ibunya dan Soekeni Sosrodiharjo, bapaknya. Aku membalikkan badan lalu melihat lukisan yang lain. Merinding sekaligus terharu rasanya ketika menyaksikan raut wajah Bung Karno yang terlihat tua pada saat menghadiri pernikahan anaknya, Guntur Soekarno Putra. Wajahnya sangat berbeda disbanding dengan foto-foto periodisasi tadi. Dalam hati aku berkata, “Aku juga akan menjadi tua seperti ini nantinya,” masya Allah.

Di bagian yang lain, aku melihat foto Bung Karno sedang berpidato. Di bawah foto itu ada tulisan seperti ini: “Pada waktu aku (Bung Karno) berpidato, rakyat berjejal-jejal untuk mendengarkan wejanganku dengan penuh perhatian.” Aku berkata dalam hati, “Beginikah pengaruh Bung Karno terhadap masyarakat Indonesia?”

Ternyata tidak hanya foto Bung Karno saja di museum. Ada foto Bung Hatta di situ. Aku dekatkan diri melihat lukisan Bung Hatta yang sedang sakit berbaring di atas ranjang. Di sampingnya, berdiri seorang Bung Karno yang sedang menjenguk. Telunjuk Bung Karno terlihat menunjuk kaki Bung Hatta yang sakit sedang sibalut perban.
Baru ku ketahui, Bung Karno ternyata pernah naik haji. Hal yang baru aku ketahui selama tinggal hampir 21 tahun di Indonesia ini. Bung Karno naik haji pada Jumat, hari suci umat Islam. Oleh karena itu, beliau mendapat gelar Haji Akbar.

Setelah pusing melihat-lihat banyaknya lukisan dan foto, aku melangkah mendekat pintu keluar. Namun aku urung keluar museum, ada benda yang menghentikan langkahku saat itu. di sebelah pintu keluar itu terdapat koleksi perangko (filateli) dengan gambit wajah-wajah Bung Karno. Setelah puas menyaksikannya, aku dan mas Ardi keluar museum dengan berat hati. Aku ingin sekali lagi bisa masuk tempat itu. Semoga bisa.

Inilah yang aku temukan dalam perjalan itu. Ternyata, bangsa Indonesia ini memlikki sejarah yang besar. Sejarah besar yang patut diketahui oleh seluruh lapisan masyarakat Indonesia. Bing karno pernah berkata, “Jangan sekali-kali melupakan sejarah.” Apa artinya? Kalau menurut aku, sejarah adalah jalan yang dapat membesarkan dan memberi perubahan pada bangsa Indonesia ini khususnya. Maka dari itu, jangan dilupakan! Jika kita melupakannya, maka akan sulit bagi kita untuk membesarkan bangsa Indonesia ini. Bahkan untuk berdikari (bediri di atas kaki sendiri).

Jumat, 25 Maret 2011

Bahagia karena Singkong Goreng

Sudah hampir dua tahun aku tak berjumpa ayah dan ibu. Bukan aku “anak mama” yang kebanyakan orang bilang. Tapi siapa manusia di dunia ini yang tidak ingin berkumpul dengan orang tuanya?

Orang tuaku jauh di sana. Sering mereka menceritakan keadaan di tempatnya. Aku prihatin kalau mereka bercerita tentang ganasnya kehidupan ini. Orang-orang saling bersandiwara hanya untuk kenyang. Tapi yang kudengar dari orang tuaku berbeda. Suatu hari, ayah mengirim pesan: “Di sini kami sedang makan singkong goreng. Aduhai enaknya,”. Betapa sedihnya aku. Ya, aku sangat sedih saat itu. Hanya makan singkong goreng saja ayah dan ibu bahagia. Sementara aku, yang hampir setiap hari selalu makan daging ayam, bumbu bali, dan nikmatnya soto lamongan, tak sebanding dengan kenikmatan yang mereka rasakan. Uh, ayah dan ibu, aku ingin melihat bahagaimu saat makan singkong goreng itu.

Saat aku bersama mereka, juga sering aku makan singkong goreng. Namun ketika aku tidak lagi bersama hanya karena ingin mengejar cita-cita yang mesih abstrak di benakku ini, aku tidak pernah lagi makan asinnya gorengan singkong ibu yang dihidangkan dengan pedasnya sambal. Seakan aku lupa, kemudian diingatkan oleh pesan ayah tadi. Satu hal yang aku sadari. Ternyata, aku “anak singkong”.
Hingga saat ini pun aku suka makan singkong. Beginilah enaknya singkong. Makanan orang sederhana. Tak perlu mengeluarkan beratus ribu rupiah untuk menikmatinya. Tanamannya bisa tumbuh di mana saja. Daunnya bisa digunakan untuk membuat sayur. Dipotong berapa batang pun, kalau ditancapkan lagi ke tanah akan tumbuh dan berbuah pula. Masya Allah!

Tapi begitulah orang tua, tidak pernah habis madu kasih sayangnya. Kalau aku bisa menghitung, tidak terkira lagi jumlah angka nol yang tertera. Senang lantaran singkong? Mungkin orang tuaku saja yang seperti itu di dunia ini. semua yang ku katakana itu adalah pengalaman hidupku. Hidup yang sekali ini saja tak perlu mengecewakan orang tua.

Sabtu, 12 Februari 2011

PENYEBAB INDONESIA JALAN DITEMPAT

Indonesia merupakan negara yang besar dan kaya akan sumber daya alamnya.
Tetapi kenapa sulit untuk maju???

Koruptor, para oknum negara, dan narkoba memang bisa dikatakan musuh besar bagi negara di dunia. Khusus Negara Indonesia, musuhnya bukan hanya seperti yang disebutkan di awal. Ada beberapa hal yang membuat negara Indonesia jalan di tempat (TIDAK BISA MAJU), hal tersebut dikarenakan adanya keterlibatan orang-orang sebagai berikut:
1. Orang-orang yang haus akan kekuasaan serta bekerja dengan megenyampingkan amanah.
Para pejabat yang sangat berobsesi menjadi pemimpin atau mencari kedudukan tertinggi di instansi pemerintahan. Pejabat itu mencalonkan diri karena berlatar belakang hasrat, bukan berlandaskan amanah.
2. Orang-orang yang sibuk mencari kesalahan pemimpin, yang bertujuan menjatuhkan.
Seseorang yang bersikeras melengserkan pemimpin/presiden. Mereka hanya menginginkan pemimpin dari kelompoknya saja. Dengan adanya kelompok seperti ini, mengakibatkan pembangunan negara terhambat.
3. Orang yang cerdas namun cacat moral.
Para wakil rakyat yang tidak dapat menjalankan pemerintahan bersih, mudah untuk menyuap dan disuap.
4. Pengkritik pemerintahan.
Orang yang gemar mengkritik tanpa mengkoreksi diri sendiri seberapa besar pengorbanannya untuk Indonesia.
5. Pemvonis pemerintah .
Orang-orang seperti ini asal bersuara saja. Mereka tidak pernah turun kelapangan untuk melihat kondisi langsung tanpa melakukan perubahan yang baik. Jika ada pemerintah yang salah dalam bertutur kata, keliru sedikit dalam bertindak, langsung saja divonis salah.
6. Para mavia hukum yang tidak takut/siap bersilat lidah.
Pengacara yang siap turun untuk membela kliennya yang bersalah bahkan sampai membebaskannya dari jeratan hukum. Padahal pengacara tersebut tahu mana yang salah dan mana yang benar. Karena adanya sogokkan dari kliennya pula, maka pengacara itu bersedia menyalahkan kebenaran.
7. Para koruptor yang terbukti bersalah dan dihukum tapi kemudian masih memiliki dendam pada siapa yang berhasil mengalahkannya.
Terpidana korupsi yang tidak jera dengan hukuman, masih saja tidak takut untuk melakukan kesalahan lagi. Mereka akan tetap memburu seseorang yang mampu membuktikannya bersalah.
8. Orang-orang yang serakah yang tanpa peduli dengan keadaan masyarakat secara umum.
Menghalalkan segala cara untuk meloloskan niatnya dan di otaknya isinya hanya materi saja.
9. Orang yang tidak memiliki watak bersaing secara sehat.
Tidak mampu menerima kekalahan atas kompetisi yang sudah diatur secaara adil sehingga masih mencari celah-celah untuk menjatuhkan pemenang.
10. Orang yang tidak bisa meresapi makna pemerintahan bersih , selalu tidak puas dengan hasil pencapaian dari pemerintahan tersebut.
Selalu merasa tidak puas dengan karya pemimpin, yang menurutnya itu masih kurang bahkan salah.
Kemiskinan bukan penyebab suatu negara tidak menjadi maju, karena kemiskinan merupakan dampak dari sistem, bukan “penyebab”. Sistem yang salah dapat menghambat proses kemajuan bangsa dan negara ini. Sistem tersebut diakibatkan oleh peranan orang-orang yang kacau. Orang-orang tersebut sangat merugikan dan jika masih ada maka Indonesia akan tetap ketinggalan dengan negara lain bahkan bisa terpuruk.
Andai…… Indonesia bersih dari orang-orang tersebut???

Siapapun yang terpilih mendapatkan kursi di lembaga pemerintahan, bersatulah dalam pembangunan! Karena kita semua bersaudara, satu bangsa satu negara. KERITISLAH PADA SUATU KARYA DAN SOLUSI.


Atas nama generasi muda Indonesia (LNF)

Kamis, 06 Januari 2011

TIMNAS Awali Nasionalisme


Tak dapat dipungkiri, keberhasilan Timnas Indonesia memasuki final Piala AFF 2010 telah membangkitkan semangat nasionalisme seluruh masyarakat Indonesia. Sebelumnya, tidak pernah terjadi hal seperti ini. Nasionalisme seperti hanya milik kalangan mahasiswa saja, namun sekarang telah menjadi milik seluruh masyarakat Indonesia. Indonesia telah empat kali merasakan atmosfer final kejuaraan antar negara se-Asia Tenggara ini. Namun baru di tahun 2010 ini, masyarakat begitu antusias menyimak perkembangan sepakbola Indonesia. Mulai anak-anak hingga orang tua, semua berbicara tentang Timnas. Salah satu alasan bangkitnya nasionalisme di samping suksesnya Timnas Indonesia masuk final adalah adanya dua pemain naturalisasi Cristian Gonzales dan Irfan Harys Bachdim. Mereka membawa angin segar bagi persepakbolaan Indonesia. Permainan cantik mereka telah menarik jutaan masyarakat bangkit dalam jiwa nasionalisme yang besar. Masyarakat Indonesia seperti mendapatkan panutan dalam mengembangkan jiwa nasionalisme yang telah lama hilang. Sepakbola telah mengubah pola pikir dan pandang masyarakat Indonesia. Lebih dari itu, semangat ini telah menjulur keberbagai aspek, sehingga muncullah LPI (Liga Primer Indonesia) yang disebut-sebut sebagai kompetisi saingan PSSI dalam konteks ini ISL (Indonesia Super League). Namun tak apalah, tak usah memperkeruh keadaan di tengah nasionalisme yang besar. Demi tujuan yang baik untuk negar Indonesia tercinta, kita lakukan berbagai macam hal. Demi kebaikkan semuanya harus dilakukan, jangan memungkiri kesalahan dan kegagalan.