Kamis, 14 April 2011
Sabtu, 02 April 2011
Jumat, 01 April 2011
Ke Museum Bung Karno
13 Maret lalu aku dan mas Ardi pergi ke Kota Blitar. Mas Ardi adalah orang Blitar dan juga teman kostku. Perjalanan ke Kota Blitar saat itu adalah yang pertama bagiku. Aku merasa senang dan akan mangenang perjalanan berkesan itu.
Perjalanan melewati waduk Karang Kates kemudian masuk Kabupaten Blitar. Setelah beberapa kilo meter memasuki Kabupaten Blitar, aku dan mas Ardi mengunjungi pembangkit listrik tenaga air yang bernama Lodoyo. Pada kesempatan momen itu, kami mengambil gambar sepuasnya sampai ada seorang satpam yang memanggilku. Aku lihat orang bersergam putih itu. wajahnya terlihat garang. Kumisnya jarang-jarang di atas bibirnya. Mas Ardi yang berada di kejauhan tidak menyaksikan apa yang sedang terjadi kepadaku. Kemudian aku berteriak keras ke arah mas Ardi. Beberapa kali teriakan meledak dari mulutku, baru mas Ardi mendengarnya.
Sekarang kami berjalan menuju satpam yang telah menunggu di ujung jembatan sana. Setelah dirasanya kami dekat dengan dia, sambil duduk di atas motornya yang kuno, langsung saja dia memberi peringatan kepada kami bahwa dilarang berfoto-foto tanpa izin. Aku menjawab, “kami tidak tahu peraturannya, maaf,” aku membela diri. Tapi satpam itu seakan tidak mendengarkan dan hanya menapilkan sosok emosinya saja. Keadaa sedikit tegang ketika satpam itu mengatakan bahawa telah terpampang peringatan di ujung jemabatan sebelum masuk ke Lodoyo. Namun seingatku, peringatan itu tidak ada. “Kami tidak melihatnya, pak,” tegasku. “Ah, ada kok papan peringatannya,” belanya.
Berupaya tidak ingin memperpanjang masalah, aku mengiakan saja apa yang dikatakannya. Lalu aku dan mas Ardi bergegas pergi melewati jembatan tempat kita masuk tadi. Di ujung jembatan itu, memang benar, tidak ada peringatan dilarang memotret tanpa izin. Tapi ya sudahlah, kami melanjutkan perjalan menuju Kota Blitar, kotanya Pak Karno.
Tidak beberapa lama kemudian, kami sampai di Kota Blitar. Blitar terbagi dua wilayah administratif. Kota dan Kabupaten Blitar. Sama halnya seperti di Malang. Setelah masuk Kota Blitar, perjalan kami langsung menuju ke kompleks pemakan Bung Karno.
Di lingkungan kompleks itu, terdapat perpustakaan, museum, dan tentunya yang menjadi perhatian pengunjung, makam Bung Karno. Pada waktu itu, aku tidak sempat masuk ke dalam perpustakaan, namun aku sempat masuk ke dalam museum dan kompleks pemakaman.
Mendeskripsikan pemakan tidak begitu menarik menurutku. Tapi yang membuat aku tertarik adalah mendeskripsikan museum Bung Karno. Baiklah, aku akan menceritakan ruangan itu kepada para pembaca yang budiman.
Setiap pengunjung yang hendak masuk harus mengisi buku tamu. Para pengunjung dilarang mendokumentasikan atau memotret selama berada di dalam ruangan. Memasuki museum, aku langsung melihat berbagai macam foto dan lukisan yang dipajang di dinding. Terdapat sebuah lukisan Bung Karno yang jika dilihat dari samping pada lukisan itu, dada Bung Karno terlihat berdetak seperti detakan jantung. Aneh, ya aneh. Tapi aku menyaksikan sendiri dan aku terheran-heran. Aku simpan keherananku itu, lalu aku lanjutkan penjelejahan di dalam museum yang sangat sarat dengan sejarah Bung Karno itu.
Di sebelah kanan dari pintu masuk, setelah melewati lukisan Bung Karno di awal tadi, ada bendera merah-putih yang dikibarkan pada tanggal 16 Agustus 1945 (sehari sebelum proklamasi kemerdekaan Indonesia). Bendera itu dibuat oleh Ibu Fatmawati, istri Bung Karno. Bergeser sedikit ke kiri, ada foto Bung Karno yang sedang sungkem kepada Ibunya, Ida Aju Njoman Rai. Tepat di samping foto itu, digantung sebuah jas di dalam lemari kaca. Jas itu adalah kepunyaan Soekarno yang sering dipakai jika berdinas. Namun karena usianya yang sudah senja, bagian bawah kerah jas itu tampak robek.
Ada uang seri Bung Karno bernominal Rp 100 (tahun 1954) dan Rp (1000 tahun 1964). Pada papan informasi yang berada di bawahnya, uang itu memilikki keunikan, yaitu bisa melipat bila diletakkan di atas telapak tangan orang-orang tertentu.
Di pjok ruangan, ada sebuah gong besar yang berdiameter 91 cm. namun tidak diketahui secara jelas tahun pembuatannya. Gong itu sering digunakan untuk menyambut kedatangan Bung Karno jika berkunjung ke Kota Blitar. Gong itu juga pernah digunakan dalam pertunjukkan wayang kulit. Ternyata Bung Karno hobi mendalang pula.
Di tengah-tengah ruangan depan terdapat kopor bersejarah yang sering digunakan oleh Bung Karno keluar masuk penjara. Kopor itu dalam keadaan terbuka, di dalamnya ada sebilah pedang kecil berwarna keemasan dengan berat 309 gram. Menurut informasi di situ,pedang itu sering digunakan Bung Karno sebagai pegangan disaat kunungan kedinasan.
Ada foto-foto koleksi tentang Bung Karno dalam periodisasi yang menggambarkan perjalanan sejak menjadi murid hingga lulus dari ITB. Selain itu, juga ada foto bersama teman-temannya di T.H.S. Bandung. Sebuah foto Bung Karno di atas kereta Belanda sangat menarik perhatianku. Foto itu menggambarkan bahwa Bung Karno adalah seorang murid yang terpandang. Adanya foto itu, menapik isi buka David Copperfield yang menceritakan Bung Karno sebagai tokoh gembel.
Di ruangan tengah museum ada lukisan kedua orang tua Bung Karno. Ida Aju Njoman Rai, ibunya dan Soekeni Sosrodiharjo, bapaknya. Aku membalikkan badan lalu melihat lukisan yang lain. Merinding sekaligus terharu rasanya ketika menyaksikan raut wajah Bung Karno yang terlihat tua pada saat menghadiri pernikahan anaknya, Guntur Soekarno Putra. Wajahnya sangat berbeda disbanding dengan foto-foto periodisasi tadi. Dalam hati aku berkata, “Aku juga akan menjadi tua seperti ini nantinya,” masya Allah.
Di bagian yang lain, aku melihat foto Bung Karno sedang berpidato. Di bawah foto itu ada tulisan seperti ini: “Pada waktu aku (Bung Karno) berpidato, rakyat berjejal-jejal untuk mendengarkan wejanganku dengan penuh perhatian.” Aku berkata dalam hati, “Beginikah pengaruh Bung Karno terhadap masyarakat Indonesia?”
Ternyata tidak hanya foto Bung Karno saja di museum. Ada foto Bung Hatta di situ. Aku dekatkan diri melihat lukisan Bung Hatta yang sedang sakit berbaring di atas ranjang. Di sampingnya, berdiri seorang Bung Karno yang sedang menjenguk. Telunjuk Bung Karno terlihat menunjuk kaki Bung Hatta yang sakit sedang sibalut perban.
Baru ku ketahui, Bung Karno ternyata pernah naik haji. Hal yang baru aku ketahui selama tinggal hampir 21 tahun di Indonesia ini. Bung Karno naik haji pada Jumat, hari suci umat Islam. Oleh karena itu, beliau mendapat gelar Haji Akbar.
Setelah pusing melihat-lihat banyaknya lukisan dan foto, aku melangkah mendekat pintu keluar. Namun aku urung keluar museum, ada benda yang menghentikan langkahku saat itu. di sebelah pintu keluar itu terdapat koleksi perangko (filateli) dengan gambit wajah-wajah Bung Karno. Setelah puas menyaksikannya, aku dan mas Ardi keluar museum dengan berat hati. Aku ingin sekali lagi bisa masuk tempat itu. Semoga bisa.
Inilah yang aku temukan dalam perjalan itu. Ternyata, bangsa Indonesia ini memlikki sejarah yang besar. Sejarah besar yang patut diketahui oleh seluruh lapisan masyarakat Indonesia. Bing karno pernah berkata, “Jangan sekali-kali melupakan sejarah.” Apa artinya? Kalau menurut aku, sejarah adalah jalan yang dapat membesarkan dan memberi perubahan pada bangsa Indonesia ini khususnya. Maka dari itu, jangan dilupakan! Jika kita melupakannya, maka akan sulit bagi kita untuk membesarkan bangsa Indonesia ini. Bahkan untuk berdikari (bediri di atas kaki sendiri).
Langganan:
Postingan (Atom)







