Minggu, 25 September 2011

Kewajibanku kepada Kedua Orang Tua



ü Ketika Rasulullah saw ditanya oleh seorang laki-laki, “Siapakah yang paling berhak terhadap baktiku?” Beliau menjawab, “Ibumu”. Laki-laki itu bertanya lagi, “Kemudian siapa?” Beliau menjawab “Ibumu”. Laki-laki itu bertanya lagi, “kemudian siapa?” Beliau menjawab “Ibumu”. Ia bertanya lagi “Kemudian siapa lagi?” Beliau menjawab “Bapakmu” [al-Bukhari:5971, Muslim:2548].

ü Abdullah bin Mas’ud r.a berkata.”Aku bertanya kepada Nabi saw, amal apa yang paling dicintai Allah Ta’ala?”. Beliau menjawab, “berbakti kepada kedua orangtua”. Aku bertanya lagi, kemudian apa lagi? Beliau menjawab “jihad di jalan Allah”. [HR.al Bukhari:5970].

ü Pernah suatu ketika seorang laki-laki menghampiri Nabi saw dan meminta izin untuk berjihad, Nabi saw bertanya, “Apakah kedua orangtuamu masih hidup?” laki-laki itu menjawab “Ya”. Nabi saw bersabda, “kalau begitu berjihadlah pada keduanya”. (Muttafaq ‘alaih; [al-Bukhari:3004, Muslim:2549).

ü Seorang laki-laki Anshar datang lalu bertanya, “Wahai Rasulullah, masih adakah bakti wajibku kepada kedua orangtuaku yang harus aku lakukan setelah mereka meninggal?” Nabi saw menjawab, ”Ada, yaitu empat hal, mendoakan keduanya, memohonkan ampunan bagi keduanya, melaksanakan janji keduanya, menghormati teman-teman keduanya dan menyambung tali persaudaraan (silaturrahmi) yang tidak ada hubungan rahim denganmu kecuali melalui keduanya. Itulah sisa bakti yang harus kau lakukan terhadap keduanya setelah mereka meninggal”. (HR. Abu Daud [5142]).

ü Rasulullah bersabda “Sesungguhnya ketaatan itu pada kebaikan” (HR. Muslim: [1840]).

Jumat, 16 September 2011

Jalan Keluar



Saat pindah ke Kalimantan aku berada di tingkatan sekolah menengah atas. Nama sekolahanku adalah SMA N 1 Sebuku yang mulai berdiri sejak 2006 silam. Aku tak sempat merasakan suasana kelas satu di SMA ini. Masa ketika kelas satu SMA aku habiskan di Banyuwangi. Jadi aku adalah siswa pindahaan sejak kelas dua SMA.

SMA N 1 Sebuku berada di tengah-tengah hutan. 10 langkah kebelakang saja aku sudah memasuki hutan. Di samping kanan dan kiri juga begitu. Hutan begitu lebat menutupi lingkungan sekolah. Pohon-pohon besar menjulang tinggi menutupi sinar matahari yang terang di pagi hari. Walaupun sekolah ini berada di tengah hutan, namun bangku sekolah terbuat dari plastik yang berwarna merah dan biru. Hanya meja saja yang terbuat dari kayu.

Karena letaknya yang berada di tengah hutan dan jauh dari pemukiman penduduk, maka akses transportasi ke sekolah cukup jauh dan sulit dijangkau. Untuk menanggulangi hal semacam ini, pemerintah setempat menyediakan dua truk (semacam truk satpol PP) untuk mengangkut siswa ke sekolah. Bukanlah bis tapi truk, tapi teman-teman menyebutnya bis sekolah.

Bagi teman-teman yang memilikki motor mereka tidak diperkenankan ikut dalam rombongan truk. Semenjak adanya truk ini, aku lebih sering ikut rombongan dari pada jalan kaki atau numpang orang ke sekolah. Jalan berdebu dan berbatu setiap hari aku lewati. Berangkat dengan seragam bersih pulangnya berseragam kotor. Meski begitu, aku jarang mencuci seragam karena takut tidak kering.

Pada awal berdirinya, sekolahan ini memiliki sekitar 70-an siswa. Terdapat tiga ruang kosong di sekolah. Dua untuk ruang kelas dan yang satu adalah kantor guru. Satu kelas berisi siswa IPA yang berjumlah 30 orang, aku termasuk di dalamnya. Sedangkan 40 yang tersisa mengambil jurusan IPS.

Kebanyakan orang mengimplementasikan kalau jurusan IPA berisi anak-anak yang pandai. Mahir dalam soal hitung-hitungan dan berpikir rasional. Tetapi berbeda yang ku rasakan saat itu, kelasku seperti bukan kelas, lebih cocok dibilang hotel mawar di pinggiran hutan. Siswa hanya datang ke sekolah lalu tiduran. Jika merasa lelah tidur dan belajar kemudian mereka pulang begitu saja.

Aku terengah menyaksikan adegan-adegan aneh seperti itu setiap hari. Terkadang tertawa sedih meratapi nasib pendidikanku. Seingatku, hanya ada delapan sampai 10 orang guru saja. Lebih parah lagi, tak ada guru yang sesuai mengajar mata pelajaran dengan disiplin ilmu yang dimiliki. Sarjana pertanian atau SP mengajar Biologi, sarjana PKN mengajar olahraga, sarjana Hukum mengajar bahasa Inggris, dan yang terakhir D3 teknik mengajar Kimia, Fisiki, dan Matematika.

Masya Allah! Yang aku khawatirkan adalah nasib saat menjelang Unas nanti. Apakah aku lulus atau tidak? Saat-saat SMA yang seharusnya penuh kenangan dan keindahan aku lalui dengan kekhawatiran. Namun tak ada guna bagiku untuk terus meratapi keterpurukan itu apalagi sampai menyesali. Aku belajar sebisaku dan apapun itu yang bersangkutan dengan ujian aku pelajari. Hal yang aku sadari pastilah ada jalan keluar dari semua ini. Tuhanku tak akan memberi kesulitan kepadaku sehingga kesulitan itu tak mampu aku selesaikan.

Singkat cerita, datanglah waktunya menghadapi Unas. Satu-satunya jalan lulus ujian adalah mengikuti ujian. Bergetar dan berdebar kencang jantung serta urat nadi seluruh tubuhku menghadapi hari itu. Aku paham betul siapa aku dan apa yang harus ku perbuat. Sepanjang ujian, senjata ampuh yang selalu ku ucapkan adalah doa, doa, dan berdoa. Semoga lulus!

Beberapa minggu kemudian, tiba saatnya untuk melihat hasil ujian nasioanl. Sebelumnya tersiar kabar bahwa ada sekitar 11 orang yang tidak lulu. Aku tidak tahu siapa mereka. Aku hanya akan merasa sedih jika memang berita itu betul. Saat mendapat amplop dari guru, aku buka pelan-pelan dengan tangan yang bergeter. Bukan hanya tanganku saja, pikiran dan perutku juga bergetar seperti siap-siap meletus jika tidak tahan lagi.

Aku sobek amplop itu, karena tanganku yang bergetar, tidak sengaja aku juga menyobek suratnya. Untung tidak secara keseluruhan surat sobek, hanya ujungnya saja. Apakah aku lulus? Tiap kali aku tanyakan pada diri sendiri. Aku buka surat dan kulihat beberapa kalimat tersusun rapi seperti surat resmi. Namaku tercantum di dalamnya di bawah namaku tertulis kalimat dengan huruf kapital semuanya. Lima huruf jumlahnya dan bacanya adalah LULUS!

Alhamdulillah, dengan meneteskan air mata aku tidak percaya dengan apa yang kulihat. Aku lulus dan akan melanjutkan ke perguruan tinggi. Aku bahagia dan bangga. Orang tuaku juga demikian. Nilai ujian nasionalku adalah 39, aku lupa koma berapa. Nilaiku tak cukup bagus jika dibandingkan dengan teman-teman yang berada di Jawa setelah aku tanyakan kepada mereka. Namun nilai itu adalah yang tertinggi di kelasku. Ah, lucu sekali! Sementara di kelas IPS nilai tertinggi adalah 41.

Begitulah kisah beruntungku di masa-masa SMA. Penuh dengan makna dan hikmah. Tuhan tidak membebani aku dengan masalah yang tidak bisa aku selesaikan. Begitu juga dengan kehidupan kalian. Terima kasih teman-teman atas perhatiannya semoga bermanfaat untuk aku dan kalian semua.

“Hidup seperti mengendarai sepeda, kita harus tetap bergerak agar tetap seimbang”