Jumat, 25 Maret 2011

Bahagia karena Singkong Goreng

Sudah hampir dua tahun aku tak berjumpa ayah dan ibu. Bukan aku “anak mama” yang kebanyakan orang bilang. Tapi siapa manusia di dunia ini yang tidak ingin berkumpul dengan orang tuanya?

Orang tuaku jauh di sana. Sering mereka menceritakan keadaan di tempatnya. Aku prihatin kalau mereka bercerita tentang ganasnya kehidupan ini. Orang-orang saling bersandiwara hanya untuk kenyang. Tapi yang kudengar dari orang tuaku berbeda. Suatu hari, ayah mengirim pesan: “Di sini kami sedang makan singkong goreng. Aduhai enaknya,”. Betapa sedihnya aku. Ya, aku sangat sedih saat itu. Hanya makan singkong goreng saja ayah dan ibu bahagia. Sementara aku, yang hampir setiap hari selalu makan daging ayam, bumbu bali, dan nikmatnya soto lamongan, tak sebanding dengan kenikmatan yang mereka rasakan. Uh, ayah dan ibu, aku ingin melihat bahagaimu saat makan singkong goreng itu.

Saat aku bersama mereka, juga sering aku makan singkong goreng. Namun ketika aku tidak lagi bersama hanya karena ingin mengejar cita-cita yang mesih abstrak di benakku ini, aku tidak pernah lagi makan asinnya gorengan singkong ibu yang dihidangkan dengan pedasnya sambal. Seakan aku lupa, kemudian diingatkan oleh pesan ayah tadi. Satu hal yang aku sadari. Ternyata, aku “anak singkong”.
Hingga saat ini pun aku suka makan singkong. Beginilah enaknya singkong. Makanan orang sederhana. Tak perlu mengeluarkan beratus ribu rupiah untuk menikmatinya. Tanamannya bisa tumbuh di mana saja. Daunnya bisa digunakan untuk membuat sayur. Dipotong berapa batang pun, kalau ditancapkan lagi ke tanah akan tumbuh dan berbuah pula. Masya Allah!

Tapi begitulah orang tua, tidak pernah habis madu kasih sayangnya. Kalau aku bisa menghitung, tidak terkira lagi jumlah angka nol yang tertera. Senang lantaran singkong? Mungkin orang tuaku saja yang seperti itu di dunia ini. semua yang ku katakana itu adalah pengalaman hidupku. Hidup yang sekali ini saja tak perlu mengecewakan orang tua.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar