Jumat, 19 Agustus 2011

Hanya Di Sini Tanah Airku



Pulang ke kampung halaman membuat Sahroni ingat akan masa-masa kecilnya dulu. Maklum, sejak umur 10 tahun, dia telah pergi dari kampung halaman demi mencari penghidupan di luar sana. Saat ini, dilihatnya tanah-tanah yang dulu biasa dia pakai bermain telah berubah menjadi semen-semen yang menutupi akar pohon. Namun rumah-rumah nampak tidak berubah. Masih saja berdinding bambu dan beralaskan tanah. Hanya sedikit bertembok bata. Ditemui pula anak-anak kecil sedang berlarian di bawah kemerlap matahari pagi di kampungnya. Dahulu, tak pernah dia lihat anak-anak itu. “Anak siapakah mereka?” Sahroni bertanya pada dirinya sendiri.

Cukup lama ia jalan menyusuri kampung, hingga berhenti di depan rumahnya. “Ini adalah sebuah kejutan bagi keluarga di rumah. Kedatanganku ini tanpa kabar sebelumnya. Semoga mereka semua sedang berada di rumah saat ini,” harap Sahroni.

Diketoknya pintu dua jendela yang menutupi rumahnya itu beberapa kali. Dari dalam terdengar suara tanya. “Siapa?” katanya. Namun Sahroni tidak menjawab pertanyaan itu. Sunyi kemudian suasana. Suara angin terdengar menabrak daun-daun bambu di belakang rumah. Terik matahari semakin menusuk kulit, tanda hari telah siang. Tak lama berselang, terdengar suara hentakan kaki bersamaan dengan suara tanya, “Siapa?” katanya lagi. Sahroni tetap membisu meskipun dia ingin sekali menjawab suara itu.

Dibukalah pintu dua jendela tadi pada bagian atasnya. Nampak seorang ibu tua muncul dihadapan Sahroni. Rambutnya putih nampak terurai seperti habis tidur cukup lama. Matanya berseri-seri dan sedikit basah ketika menyaksikan seorang pemuda ada di depannya. “Assalamualaikum, bu. Ini anakmu, Sahroni,” jelas Sahroni. Ibu tua itu langsung memeluk anak semata wayangnya dengan mengucapkan beberapa patah kata. “Astaghfirullah, sudah lama kami menanti kedatanganmu, nak. Kami merindukan dan selalu memikirkanmu siang dan malam,” Ibu menangis di pelukan Sahroni.

Saat ini, Sahroni telah berumur 25 tahun. Itu artinya, telah 15 tahun dia meninggalkan kampung halaman dan juga kedua orang tuanya. Keputusan Sahroni untuk pergi meninggalkan kampung dikarenakan himpitan ekonomi yang membuat kehidupan mereka miskin.

Setelah kepergiannya itu, kebutuhan keluarga cukup terpenuhi oleh kiriman uang dari Sahroni. Bapaknya yang dulu buruh tani, kini tidak bisa lagi menjalankan pekerjaannya karena usia yang semakin tua. Keadaannya sering sakit-sakitan. Jika berobat kedokter, uang makan habis untuk berobat. Sehingga memaksa keluarga itu mencari hutang kepada tetangga.

Hutang, hutang, hutang. Hampir tiap kali Sahroni mengirim uang tetapi uang habis untuk membayar hutang. Apalagi harga kebutuhan ekonomi terus naik. Keluarga tua itu nampak tak tahan lagi untuk sekedar menahan kenyang di perut. Makan seperlu dan seadanya. Bila perlu dua hari sekali baru makan. Itu untuk menghemat uang dan makanan.

Sekarang Sahroni telah datang. Keluarga berharap Sahroni membawa banyak uang sehingga mereka tidak kelaparan lagi. Namun apa yang terjadi? Uang yang ada di saku Sharoni hanya cukup untuk makan sebulan saja. Sekalipun hanya sebulan, keluarga tetap bersyukur, setidaknya mereka tidak hutang lagi.

Sahroni masuk ke dalam rumah. Nampak ayahnya berdiri di antara meja dan kursi yang dulu sering digunakan Sahroni untuk tidur. Sahroni langsung memeluk sang ayah dan mengucapkan maaf lewat suara lembut yang dibisikannya ke telinga kanan sang ayah. “Maaf, bapak. Aku terlalu lama pergi sehingga tidak begitu tahu keadaan keluarga ini,” sesal Sahroni.

Kau memang pemberani, nak. Apa yang telah kau lakukan adalah benar. Mungkin kami tidak bisa bertahan lama jika tidak ada uang kiriman dari kamu. Jadi janganlah kamu menyesali yang telah terjadi. Ini semua adalah hikmah dari Allah.

Duduk-duduklah keluarga kecil itu dirumah yang berdinding ayaman bambu. Matahari telah nampak tergelincir ke barat. Suara dedaunan bambu semakin terdengar bersamaan ricikan air sungai di bawahnya. Sunyi kembali keadaan untuk sementara. Telah tersedia segelas air putih di hadapan Sahroni. Namun tak langsung dia meminum air itu.

Kemudian sang ayah bercerita tentang keadaan kampungnya. “Sudah satu dasawarsa ini kehidupan di kampung begitu sulit, nak. Ternyata tidak hanya pejabat negara saja yang berani melakukan korup. Pejabat desa ini, yang berasal dari kampung ini, juga berani melakukan hal biadab itu. itulah sebabnya, kemakmuran di sini jauh dari harapan. Sudah empat kali pergantian kepala desa selama setahun ini. Pergantian dilakukan karena kepala desa terbukti melakukan penggelapan uang”. Sahroni hanya diam dan tetap mendengarkan ayahnya bertutur.

Yang terakhir adalah pak Mahmud. Dia ditahan polisi karena kedapatan menggelapkan dana perbaikan jalan desa ini. Itulah sebabnya, jalanan tetap jelek dan semakin rusak. Sekalipu perbaikan jalan rampung, namun jalanan-jalanan itu akan rusak beberapa bulan kemudian. Bapak tidak tahu kenapa begitu. Entah bahannya yang tidak bagus atau kerjanya asal-asalan. Namun pemerintah telah mengucurkan banyak rupiah untuk perbaikan itu. Sampai bermiliaran rupiah.

Hari semakin gelap, ibu menyalakan lampu minyak yang cahayanya menembus dinding-dinding rumah. Air minum tadi belum juga diminum oleh Sahroni. “Diminum airnya, nak! Tidakkah kamu merasa dahaga?” Tanya si ibu. “Tidak, bu. Aku terbiasa haus seperti ini. Bukankah kita keluarga miskin, bu? keluarga miskin yang belum atau mungkin tak akan pernah hilang dahaga kemiskinannya?” tegas Sahroni.

Sang ayah melanjutkan ceritanya. Saat ini banyak anak-anak tak sekolah karena biaya pendidikan yang tinggi. Meskipun sanggup membayar uang sekolah, tapi kekhawatiran akan adanya korupsi membuat beberapa orang tua lebih memilih tidak menyekolahkan anaknya. Begitulah korupsi telah membuat kami sengsara dan bodoh, nak.

Kemudian Sahroni berkata. “Bapak, kepulanganku ini tidak hanya di dasari atas kerinduanku kepada keluarga semata. Terlepas dari itu, kepulanganku dikarenakan persaingan tidak sehat yang terjadi di tempat perantauanku, Jakarta. Di sana tidak hanya korupsi, bahkan perampokan terang-teranganpun sering terjadi. Tanah air ini seakan tidak aman lagi, pak. Di mana-mana korupsi, di mana-mana perampokan. Di mana-mana rakyat kecil selalu dibohongi. Undang-undang yang dibuat itu adalah pelampaiasana keinginan orang-orang atas, bukan keinginan rakyat miskin seperti kita. Walhasil, orang miskin semakin sengsara.

Lalu, di mana lagi kita akan hidup enak, pak? Hanya ini tanah airku. Di sinilah, Indonesia. Pantaskah aku kelaparan di sini, tempat kelahiranku ini? Tanya Sahroni. Ayah menjawab, “Meskipun kita ini keluarga miskin, tapi jangan sampai hina seperti mereka. Mereka itu (koruptor) orang-orang kaya yang hina, sedangkan kita orang-orang miskin bermartabat. Tidak kah kau ingin tinggal di gubuk bambu yang penuh kedamaian dari pada di istana yang penuh dengan kehinaan dan kebohongan?”. “Aku mengerti, pak,” jawab Sahroni sedih.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar