Anak
Muda Karakter Bangsa
Pada
saat saya pergi ke sebuah pesantren di Jombang, saya bertemu dengan seorang
anak muda lulusan pesantren tersebut. Saat itu dia tercatat sebagai mahasiswa
di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Menurut pengakuannya, dia merupakan
salah satu anggota organisasi Himpunan Mahasiswa Islam Indonesia (HMI).
Berbincang-bincang dengannya sangat menyenangkan. Dia sangat bersemangat dan
bergairah mendiskusikan tema perbincangan. Pada saat saya tanyakan mengenai
peran sejarah dalam perkembangan bangsa ini. Saya mendengarkan jawaban yang
sangat kritis darinya. Dengan penuh percaya diri dia mengatakan “Sejarah dibuat
menakutkan,”. Menurutnya, sejarah Indonesia khususnya, adalah sebuah kisah yang
ambigu untuk diungkap kebenarannya. Banyak tragedi-tragedi yang belum terungkap
hingga kini. Seperti kejadian Surat Perintah Sebelas Maret atau yang lebih
dikenal dengan sebutan Supersemar dan kejadian G 30 S/ PKI.
Memang
apa adanya yang diungkapkan teman saya tadi. Saya juga sempat berkata dalam
hati, “Menakutkan atau dia sendiri yang takut terhadap sejarah?”. Ada benarnya jika membahas mengenai Supersemar dan G 30 S/ PKI terdapat banyak kejanggalan
dalam pembahasannya. Untuk cerita Supersemar, siapa yang berada di dalam kantor
Soekarno saat penyerahan Supersemar? Apakah Soekarno menandatangani surat
tersebut dalam keadaan sadar, ataukah di bawah todongan pistol? Pada masa Orde
Baru, masyarakat takut membicarakan hal tersebut. Jadi, selama hampir 32 tahun
Orde Baru berkuasa di negeri ini, selama itu pula tak banyak orang yang membicarakannya. Semua orang takut
terjadi hal-hal yang buruk jika mebicarakan mengenai pemerintahan. Sampai saat
ini pun informasi tetap simpang siur. Tak ada kejelasan yang pas dan kuat.
Salah satu saksi mengatakan bahwa Soekarno menandatangani Supersemar di bawah todongan
pistol. Sementara saksi yang lain mengatakan hal itu tidak benar. Seakan tidak
ada jalan keluarnya. Bahkan sampai Soeharto wafat pun, kejelasannya belum
terungkap. Hanya Tuhan yang tahu!
Melihat
kejadian di atas, ternyata sejarah juga tak ingin menampakkan kejelekannya.
Seandainya saat itu para pelaku sadar bahwa kejadian tersebut akan menjadi
sejarah di saat ini, tentu mereka menginginkan masyarakat saat ini berfikiran
yang baik tentang mereka. Mungkin juga mereka sadar kalau kejadian itu akan
menjadi sejarah, namun mereka mengingkarinya. Sebagai manusia biasa, mereka
pasti berharap dikenang sebagai pahlawan yang baik. Bagaimana jika ingin
dikenang sebagai pahlawan yang baik? Tentunya mereka harus berbuat baik. Ada
istilah yaitu “mendem jeru mikul dhuwur”.
Sejelek apapun seorang pahlawan, sepatutnya kita pendam dalam-dalam
kekhilafannya. Namun sebaliknya, segala jasa kebaikannya kita junjung tinggi.
Namun
kebaikan yang dimaksud bukanlah kebaikan yang dibuat-buat. Kita tak perlu
menghargai kebaikan yang dubuat-buat
karena kebaikan yang dibuat-buat itu adalah riya’. Dasarilah kebaikkan
itu dengan keikhlasan.Tuhan pasti akan membalas segala yang dilakukan
hamba-Nya. Baik buruk dan baik, semua akan ada balasannya. Maka dari itu, mari
kita ciptakan sejarah yang baik agar Tuhan membalasnya dengan kebaikan pula
bagi generasi di masa mendatang. Untuk menciptakan sejarah yang baik itu, harus
dimulai dari sekarang juga dan jangan ditunda-tunda! Saat muda yang penuh
peluang untuk bertindak seperti ini semestinya kita jadikan momentum untuk
mencetak sejarah yang bermaratabat dan baik di masa depan. Anak muda menjadi
karakter sebuah bangsa, maka ciptakanlah karakter bangsa yang hebat melalui
generasi mudanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar