Selasa, 06 Maret 2012


Anak Muda Karakter Bangsa
Pada saat saya pergi ke sebuah pesantren di Jombang, saya bertemu dengan seorang anak muda lulusan pesantren tersebut. Saat itu dia tercatat sebagai mahasiswa di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Menurut pengakuannya, dia merupakan salah satu anggota organisasi Himpunan Mahasiswa Islam Indonesia (HMI). Berbincang-bincang dengannya sangat menyenangkan. Dia sangat bersemangat dan bergairah mendiskusikan tema perbincangan. Pada saat saya tanyakan mengenai peran sejarah dalam perkembangan bangsa ini. Saya mendengarkan jawaban yang sangat kritis darinya. Dengan penuh percaya diri dia mengatakan “Sejarah dibuat menakutkan,”. Menurutnya, sejarah Indonesia khususnya, adalah sebuah kisah yang ambigu untuk diungkap kebenarannya. Banyak tragedi-tragedi yang belum terungkap hingga kini. Seperti kejadian Surat Perintah Sebelas Maret atau yang lebih dikenal dengan sebutan Supersemar dan kejadian G 30 S/ PKI.
Memang apa adanya yang diungkapkan teman saya tadi. Saya juga sempat berkata dalam hati, “Menakutkan atau dia sendiri yang takut terhadap sejarah?”. Ada benarnya jika membahas mengenai Supersemar dan G 30 S/ PKI terdapat banyak kejanggalan dalam pembahasannya. Untuk cerita Supersemar, siapa yang berada di dalam kantor Soekarno saat penyerahan Supersemar? Apakah Soekarno menandatangani surat tersebut dalam keadaan sadar,  ataukah di bawah todongan pistol? Pada masa Orde Baru, masyarakat takut membicarakan hal tersebut. Jadi, selama hampir 32 tahun Orde Baru berkuasa di negeri ini, selama itu pula  tak banyak orang  yang membicarakannya. Semua orang takut terjadi hal-hal yang buruk jika mebicarakan mengenai pemerintahan. Sampai saat ini pun informasi tetap simpang siur. Tak ada kejelasan yang pas dan kuat. Salah satu saksi mengatakan bahwa Soekarno menandatangani Supersemar di bawah todongan pistol. Sementara saksi yang lain mengatakan hal itu tidak benar. Seakan tidak ada jalan keluarnya. Bahkan sampai Soeharto wafat pun, kejelasannya belum terungkap. Hanya Tuhan yang tahu!

Melihat kejadian di atas, ternyata sejarah juga tak ingin menampakkan kejelekannya. Seandainya saat itu para pelaku sadar bahwa kejadian tersebut akan menjadi sejarah di saat ini, tentu mereka menginginkan masyarakat saat ini berfikiran yang baik tentang mereka. Mungkin juga mereka sadar kalau kejadian itu akan menjadi sejarah, namun mereka mengingkarinya. Sebagai manusia biasa, mereka pasti berharap dikenang sebagai pahlawan yang baik. Bagaimana jika ingin dikenang sebagai pahlawan yang baik? Tentunya mereka harus berbuat baik. Ada istilah yaitu “mendem jeru mikul dhuwur”. Sejelek apapun seorang pahlawan, sepatutnya kita pendam dalam-dalam kekhilafannya. Namun sebaliknya, segala jasa kebaikannya kita junjung tinggi.
Namun kebaikan yang dimaksud bukanlah kebaikan yang dibuat-buat. Kita tak perlu menghargai kebaikan yang dubuat-buat  karena kebaikan yang dibuat-buat itu adalah riya’. Dasarilah kebaikkan itu dengan keikhlasan.Tuhan pasti akan membalas segala yang dilakukan hamba-Nya. Baik buruk dan baik, semua akan ada balasannya. Maka dari itu, mari kita ciptakan sejarah yang baik agar Tuhan membalasnya dengan kebaikan pula bagi generasi di masa mendatang. Untuk menciptakan sejarah yang baik itu, harus dimulai dari sekarang juga dan jangan ditunda-tunda! Saat muda yang penuh peluang untuk bertindak seperti ini semestinya kita jadikan momentum untuk mencetak sejarah yang bermaratabat dan baik di masa depan. Anak muda menjadi karakter sebuah bangsa, maka ciptakanlah karakter bangsa yang hebat melalui generasi mudanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar